UNIVERSITAS GUNADARMA
Tugas Individu Audit Teknologi Sistem Informasi
Nama : Audi Muhamad
NPM : 11115128
Kelas : 4KA11
Audit sistem informasi
Audit merupakan sebuah kegiatan yang melakukan pemerikasaan
untuk menilai dan mengevaluasi sebuah aktivitas atau objek seperti implementasi
pengendalian internal pada sistem informasi akuntansi yang pekerjaannya
ditentukan oleh manajemen atau proses fungsi akuntansi yang membutuhkan
improvement. Proses auditing telah menjadi sangat rapi di Amerika Serikat,
khususnya pada bidang profesional accounting association. Akan tetapi, baik
profesi audit internal maupun eksternal harus secara terus menerus bekerja
keras untuk meningkatkan dan memperluas teknik, karena profesi tersebut akan
menjadi tidak mampu untuk mengatasi perkembangan dalam teknologi informasi dan
adanya tuntutan yang semakin meningkat oleh para pemakai informasi akuntansi.
Meskipun berbagai macam tipe audit dilaksanakan, sebagian besar
audit menekankan pada sistem informasi akuntansi dalam suatu organisasi dan
pencatatan keuangan dan pelaksanaan operasi organisasi yang efektif dan
efisien.
Secara garis besar perlunya pelaksanaan audit dalam sebuah
perusahaan yang telah mempunyai keahlian dalam bidang teknologi informasi yaitu
antara lain:
A. Kerugian akibat kehilangan data.
Data yang diolah menjadi sebuah informasi, merupakan aset
penting dalam organisasi bisnis saat ini. Banyak aktivitas operasi mengandalkan
beberapa informasi yang penting. Informasi sebuah organisasi bisnis akan menjadi
sebuah potret atau gambaran dari kondisi organisasi tersebut di masa lalu, kini
dan masa mendatang. Jika informasi ini hilang akan berakibat cukup fatal bagi
organisasi dalam menjalankan aktivitasnya.
Sebagai contoh adalah jika data nasabah sebuah bank hilang
akibat rusak, maka informasi yang terkait akan hilang, misalkan siapa saja
nasabah yang mempunyai tagihan pembayaran kredit yang telah jatuh tempo. Atau
juga misalkan kapan bank harus mempersiapkan pembayaran simpanan deposito
nasabah yang akan jatuh tempo beserta jumlahnya. Sehingga organisasi bisnis
seperti bank akan benar-benar memperhatikan bagaimana menjaga keamanan datanya.
Kehilangan data juga dapat terjadi karena tiadanya pengendalian yang memadai,
seperti tidak adanya prosedur back-up file. Kehilangan data dapat disebabkan
karena gangguan sistem operasi pemrosesan data, sabotase, atau gangguan karena
alam seperti gempa bumi, kebakaran atau banjir.
B. Kerugian akibat kesalahan pemrosesan komputer.
Pemrosesan komputer menjadi pusat perhatian utama dalam sebuah
sistem informasi berbasis komputer. Banyak organisasi telah menggunakan
komputer sebagai sarana untuk meningkatkan kualitas pekerjaan mereka. Mulai
dari pekerjaan yang sederhana, seperti perhitungan bunga berbunga sampai
penggunaan komputer sebagai bantuan dalam navigasi pesawat terbang atau peluru
kendali. Dan banyak pula di antara organisasi tersebut sudah saling terhubung
dan terintegrasi. Akan sangat mengkhawatirkan bila terjadi kesalahan dalam
pemrosesan di dalam komputer. Kerugian mulai dari tidak dipercayainya
perhitungan matematis sampai kepada ketergantungan kehidupan manusia
C. Pengambilan keputusan yang salah akibat informasi yang salah.
Kualitas sebuah keputusan sangat tergantung kepada kualitas
informasi yang disajikan untuk pengambilan keputusan tersebut. Tingkat akurasi
dan pentingnya sebuah data atau informasi tergantung kepada jenis keputusan
yang akan diambil. Jika top manajer akan mengambil keputusan yang bersifat
strategik, mungkin akan dapat ditoleransi berkaitan dengan sifat keputusan yang
berjangka panjang. Tetapi kadangkala informasi yang menyesatkan akan berdampak
kepada pengambilan keputusan yang menyesatkan pula.
D. Kerugian karena penyalahgunaan komputer (Computer Abused)
Tema utama yang mendorong perkembangan
dalam audit sistem informasi dalam sebuah organisasi bisnis adalah karena
sering terjadinya kejahatan penyalahgunaan komputer. Beberapa jenis tindak
kejahatan dan penyalah-gunaan komputer antara lain adalah virus, hacking, akses
langsung yang tak legal (misalnya masuk ke ruang komputer tanpa ijin atau
menggunakan sebuah terminal komputer dan dapat berakibat kerusakan fisik atau
mengambil data atau program komputer tanpa ijin) dan atau penyalahgunaan akses
untuk kepentingan pribadi (seseorang yang mempunyai kewenangan menggunakan
komputer tetapi untuk tujuan-tujuan yang tidak semestinya).
• Hacking - seseorang yang dengan tanpa
ijin mengakses sistem komputer sehingga dapat melihat, memodifikasi, atau
menghapus program komputer atau data atau mengacaukan sistem.
• Virus - virus adalah sebuah program
komputer yang menempelkan diri dan menjalankan sendiri sebuah program komputer
atau sistem komputer di sebuah disket, data atau program yang bertujuan
mengganggu atau merusak jalannya sebuah program atau data komputer yang ada di
dalamnya. Virus dirancang dengan dua tujuan, yaitu pertama mereplikasi dirinya
sendiri secara aktif dan kedua mengganggu atau merusak sistem operasi, program
atau data.
Dampak dari kejahatan dan penyalahgunaan komputer tersebut
antara lain:
• Hardware, software, data, fasilitas,
dokumentasi dan pendukung lainnya rusak atau hilang dicuri atau dimodifikasi
dan disalahgunakan.
• Kerahasiaan data atau informasi
penting dari orang atau organisasi rusak atau hilang dicuri atau dimodifikasi.
• Aktivitas operasional rutin akan
terganggu.
• Kejahatan dan penyalahgunaan komputer
dari waktu ke waktu semakin meningkat, dan hampir 80% pelaku kejahatan komputer
adalah orang dalam.
E. Nilai hardware, software dan personil sistem informasi.
Dalam sebuah sistem informasi, hardware, software, data dan
personil adalah merupakan sumberdaya organisasi. Beberapa organisasi bisnis
mengeluarkan dana yang cukup besar untuk investasi dalam penyusunan sebuah
sistem informasi, termasuk dalam pengembangan sumberdaya manusianya. Sehingga
diperlukan sebuah pengendalian untuk menjaga investasi di bidang ini.
F. Pemeliharaan kerahasiaan informasi
Informasi di dalam sebuah organisasi bisnis sangat beragam,
mulai data karyawan, pelanggan, transaksi dan lainya adalah amat riskan bila
tidak dijaga dengan benar. Seseorang dapat saja memanfaatkan informasi untuk
disalahgunakan. Sebagai contoh bila data pelanggan yang rahasia, dapat
digunakan oleh pesaing untuk memperoleh manfaat dalam persaingan.
Pada saat komputer pertama kali digunakan, banyak auditor
mempunyai pemikiran bahwa proses audit akan harus banyak mengalami perubahan
untuk menyesuaikan dengan penggunaan teknologi komputer. Ada dua utama yang
harus diperhatikan dalam audit atas pemrosesan data elektronik, yaitu pengumpulan
bukti (evidence collection) dan evaluasi bukti (evidence evaluation)
TUJUAN dan LINGKUP AUDIT SISTEM INFORMASI
Tujuan Audit Sistem Informasi dapat dikelompokkan ke dalam dua
aspek utama, yaitu:
• Conformance (Kesesuaian) – Pada kelompok tujuan ini audit
sistem informasi difokuskan untuk memperoleh kesimpulan atas aspek kesesuaian,
yaitu : Confidentiality (Kerahasiaan), Integrity (Integritas), Availability
(Ketersediaan) dan Compliance (Kepatuhan).
• Performance (Kinerja) - Pada kelompok tujuan ini audit sistem
informasi difokuskan untuk memperoleh kesimpulan atas aspek kinerja, yaitu :
Effectiveness (Efektifitas), Efficiency (Efisiensi), Reliability (Kehandalan).
PERAN AUDITOR dan AKUNTAN
Sebagian besar jurusan akuntansi mengisi
posisi internal maupun eksternal auditor dan akan sangat dilibatkan dalam
program dan proses audit. Para akuntan pemerintah atau industri akan membantu
auditor untuk mengevaluasi informasi yang dihasilkan dan mengendalikan
kelemahan pada system. Mereka yang dilibatkan dalam sistem analisis dan desain
diharapkan dapat mengembangkan sebuah sistem yang menyediakan informasi yang
handal.
Pemakaian auditor terus meningkat
sebagai penasehat selama merancang pengembangan sistem. Auditor mungkin
membantu dalam pemilihan ukuran keamanan dan kendali, menaksir cost, dan
pengendalian keuntungan dan penentuan prosedur audit yang paling efektif.
DEFINISI
AUDIT SISTEM INFORMASI
Merupakan suatu proses pengumpulan dan
pengevaluasian bukti-bukti yang dilakukan oleh pihak yang independen dan kompeten
untuk mengetahui apakah suatu sistem informasi dan sumber daya terkait, secara
memadai telah dapat digunakan untuk:
• melindungi aset,
• menjaga integritas dan ketersediaan sistem dan data,
• menyediakan informasi yang relevan dan handal,
• mencapai tujuan organisasi dengan efektif,
• menggunakan sumber daya dengan efisien,
TIPE AUDIT
Audit yang dilaksanakan sesuai tipe
perusahaan yaitu operasional, compliance, pengembangan system, internal
control, financial dan kecurangan audit. Empat jenis auditor yang dilibatkan
dalam menyelenggarakan audit yang di list adalah:
1. Internal auditor adalah karyawan
perusahaan, yang pada umumnya melaksanakan compliance, operasional,
pengembangan sistem, pengawasan intern dan kecurangan audit.
2. Ekstenal auditor adalah akuntan
publik independen yang ditugaskan oleh perusahaan, secara khusus melaksanakan
audit keuangan. Dalam berbagai macam audit keuangan, eksternal auditor dibantu
oleh internal auditor. akantetapi auditor eksternal yang bertanggung jawab
untuk menegaskan kewajaran laporan keuangan.
3. Goverment auditor, melaksanakan
pemenuhan audit atau menguji laporan perusahaan atas pengawasan yang menyangkut
para pegawai pemerintahan. sebagai contoh, pemeriksa bank pemerintahan
melaksanakan audit bank, auditor yang dtugaskan oleh auditor negara yang
umumnya melaksanakan audit daerah dan para pegawai pemerintah
4. Fraud auditor, mengkhususkan dalam
menyelidiki kecurangan dan bekerja secara tertutup dengan internal auditor dan
pengacara. fraud examminer misalnya: kesatuan FBI penyelidikan kecurangan,
perusahan besar akuntan publik , IRS, perusahaan asuransi.
Jenis-jenis audit:
1. Operational audit, terkonsen pada
efisiensi dan efectifitas dengan semua sumberdaya yang digunakan untuk
melaksanakan tugas, cakupanya meliputi kesesuaian praktik dan prosedur dengan
peraturan yang ditetapkan
2. Compliance audit terkonsentrasi pada
cakupan undang-undang, peraturan pemerintah, pengendalian dan kewajiban badan
eksternal lain yang telah diikut.
3. Project manajement and change control
audit,(dulu dikenal sebagai suatu pengembangan sistem audit) terkonsentrasi
oleh efesiensi dan efektifitas pada berbagai tahap pengembangan sistem siklus
kehidupan yang sedang diselenggarakan.
4. Internal control audit terkonsentrasi
pada evaluasi struktur pengendalian internal
5. Financial audit terkonsentrasi pada
kewajaran laporan keuangan yang menunjukan posisi keuangan, aliran kas dan
hasil kinerja perusahaan.
6. Fraud audit adalah nonrecurring audit
yang dilaksanakan untuk mengumpulkan bukti untuk menentukan apakah sedang
terjadi, telah terjadi atau akan terjadi kecurangan. Dan penyelesaian hal
sesuai dengan pemberian tanggungjawab.
BASIC AUDITING
CONSIDERATIONS
• Etika dan standar audit
Kebutuhan akan etika. Setiap profesi
mempunyai standar professional dalam bertingkah laku dan prakteknya. Statement
ini ditulis dalam bentuk yang dapat dimengerti dan dapat dilaksanakan
berdasarkan aturan yang ada. Kode etik auditor menunjukkan sikap dan prinsip
yang harus ada pada auditor sehingga dapat memberikan kontribusi pada audit
yang efektif, melindungi kepentingan pemilik perusahaan yang diaudit, dan
menjaga hubungan yang baik dengan klien.
Dalam lingkup auditing, kode etik
disebut codes of professional conduct. Internal auditor mengikuti standar-standar
praktik professional internal auditing. Sedangkan auditor eksternal mengikuti
pernyataan standar auditing. kedua standar ini mempunyai banyak persamaan.
Consultant independent yang berkecimpung
dibidang manajemen dan system informasi juga mempunyai kode etik. Kode etik ini
dikembangkan oleh AICPA yang serupa dengan standar auditor.
• Isi dari standar
Standar audit menentukan kualitas dan
tingkah laku yang professional. Standar ini dibagi menjadi dua kelompok.
Kelompok yang pertama membicarakan mengenai standar umum audit yaitu
berhubungan dengan profesionalitas, dan independensi. Sedangkan standar yang
kedua membicarakan mengenai lingkup audit seperti halnya :
1. eveluasi struktur pengendalian
internal untuk menilai risiko pengendalian.
2. review terhadap semua dokumen dan
catatan yang bersangkutan.
• Efek dari otomatisasi standar
Ketika perusahaan menggunakan system
informasi akuntansi berbasis computer, pasti akan berakibat pada prosedur audit
yang ditetapkan. Di lain pihak, dengan penggunaan system teknologi tidak
memberikan pengaruh yang signifikan. Dengan kata lain, otomatisasi sangat tidak
berpengaruh pada standar auditing professional yang berterima umum. Auditor
dituntut untuk dapat menunjukkan profesionalismenya, termasuk pelatihan dan
kecakapan yang memadai. Auditor diminta untuk mengikuti proses audit yang sama.
Proses ini terdiri dari evaluasi terhadap internal control yang ada, termasuk
saat menggunakan computer-oriented.
·
Impact of computerization on audit procedures
Seperti yang telah diterangkan, audit
yang melibatkan SIA akan dipengaruhi oleh metode processing yang diterapkan.
Luas/cakupan dari computer processing
yang digunakan dalam aplikasi akuntansi, seperti halnya tingkat kompleksitas
processing, mungkin juga berpengaruh terhadap sifat, timing, dan luas dari
prosedur audit.
Sebagai contoh, computer based system tidak menyediakan audit
trail (jejak audit) yang nampak. Audit dalam sistem ini memerlukan hasil
printout dari jurnal dan buku besar dan file record yang lain. Dengan
penggunaan real-time processing system akan menambah tingkat kesulitan,
dikarenakan sistem ini beroperasi tanpa membutuhkan dokumen sumber. Selain itu,
sistem ini juga melakukan record secara update. Microcomputer hardware dapat
dicuri dengan mudah dan dapat pila diakses oleh pihak-pihak yang tidak
berwewenang. Sedangkan paket microcomputer software sering diproses tanpa
pengecekan yang cukup. Network komputer memancarkan data ke berbagai wilayah
terutama ke wilayah yang peka terhadap akses tanpa otorisasi dan gangguan. Jika
keadaan ini mempengaruhi struktur internal control mak juga akan mempengaruhi
proses audit.
Dikarenakan tingginya tingkat kompleksitas dari computer based
processing, maka dibutuhkan tipe auditor khusus yaitu auditor sistem informasi
komputer atau the computer information system auditor (CISA). CISA menguasai
skill khusus, misalnya pengetahuan mengenai hardware dan software komputer,
database technology, data communications technology, and computer oriented
control and audit technique. Idealnya, auditor seharusnya mengusai berbagai
skill yang dimiliki CISA. Bagaimanapun, keberadaan CISA yang berpengetahuan
yang lebih mengenai teknologi informasi akan selalu dibutuhkan untuk membantu
proses audit dalam sistem komputer yang kompleks.
·
Transaction cycle approach to auditing
Beberapa survei mengenai proses transaksi telah berorientasi
pada cycle approach (pendekatan siklus). Pendekatan ini, sangat berguna bagi
proses audit karena auditor dapat memperoleh pemahaman yang mendalam tentang
struktur internal control. Pendekatan ini juga dapat menyederhanakan audit
review. Contohnya, penerapan control yang identik antara siklus revenue dengan
siklus expenditure yang dikarenakan kedua siklus ini berhubungan, maka model
proses yang diberikan juga sama.
AUDITING PROCESS
Terdapat lima tahap dalam audit keuangan, yaitu:
1. Perencanaa audit pendahuluan
2. Review pendahuluan dan assesment terhadap struktur
pengendalian internal
3. Pengujian pengendalian dalam audit
4. Pengujian substantif
5. Pelaporan audit
1. Perencanaa audit pendahuluan
Tahap pertama ini untuk menentukan kebutuhan audit serta
menetapkan cakupan dan tujuan audit. Langkah selanjutnya mencari informasi
mengenai industri perusahaan, meneliti kertas kerja tahun sebelumnya,
mempersiapkan program audit, memperoleh pemahaman mengenai bisnis perusahaan
dan mempersiapkan prosedur analitis. Prosedur analitis adalah tes untuk menguji
hubungan antara data keuangan dan non keuangan dan untuk menyelidiki
ketidakkonsistenan yang material.
2. Review pendahuluan dan assesment terhadap struktur
pengendalian internal
Kegiatan yang dilakukan adalah:
• Pemeriksaan, Dokumentasi, dan Penilaian Sistem Pengendalian
Internal. Auditor harus memahami terlebih dahulu mengenai sistem pengendalian
internal perusahaan. Dengan pemahaman tersebut, auditor dapat menilai kekuatan
dan kelemahan sistem pengendalian internal. Auditor sebaiknya menggunakan
berbagai teknik untuk mengumpulkan fakta, seperti memeriksa kembali catatan dan
dokumen, mengamati kegiatan, interview dengan personel inti dan memberikan
kuisioner.
• Menilai dan Mengelompokkan Tingkat Resiko Pengendalian.
Terdapat beberapa langkah :
1. Auditor melakukan penilaian
pendahuluan berkaitan dengan keefektifan operasi dalam struktur pengendalian
internal dan pengendalian khusus yang diterapkan dalam SAI harus
diidentifikasi.
2. Auditor harus membuat judgement
(penilaian) agar pengendalian internal yang diimplementasikan adalah
pengendalian yang kritis dan mereka dapat bekerja sesuai yang ditentukan oleh
manajemen.
3. Auditor harus menilai setiap kekuatan
pengendalian internal, sehingga risiko pengendalian dapat diperkirakan. Pada
tingkat di mana risiko itu berada dalam suatu kisaran yang dapat diterima,
auditor mempersiapkan program audit yang menunjukkan langkah pengujian kekuatan
pengendalian yang terkait. Resiko pengendalian diartikan sebagai risiko yang
menunjukkan pernyataan salah secara material dalam asersi-asersi yang mengarah
pada kesalahan yang signifikan dalam laporan keuangan.
• Keefektifan Biaya dalam Pengujian Pengendalian. Pengujian
terhadap risiko pengendalian pendahuluan harus mempertimbangkan faktor biaya.
Oleh karena itu alternatif yang mungkin bisa dilakukan oleh seseorang dengan
adanya audit lebih memperluas prosedur pengujian substanstif.
3. PENGUJIAN PENGENDALIAN DALAM AUDIT
Kegiatan yang dilakukan dalam tahap ini adalah :
• Melakukan Pengujian Pengendalian. Pengujian pengendalian
adalah pengumpulan bukti-bukti yang berfungsi secara efektif dan konsisten.
• Mengevaluasi Pengujian Pengendalian yang diperoleh. Setelah
memperoleh hasil-hasil pengujian, auditor dapat mengevaluasi efektifitas
operasional dari sistem pengendalian internal. Bukti tersebut mendukung
penemuan audit untuk tiap-tiap siklus transaksi yang dievaluasi. Evaluasi yang
dihasilkan ini menunjukkan judgement auditor yang terbaik berkaitan dengan (a)
memadainya pengendalian yang diamati dan (b) kemampuan menemukan ketidakcukupan
hasil pengujian.
• Penilaian Akhir terhadap Risiko Pengendalian. Berdasarkan
evaluasi di atas auditor menilai tingkat risiko pengendalian tertentu untuk
tiap-tiap kelompok transaksi yang utama. Tingkat risiko pengendalian akhir
memberikan dasar untuk memperkirakan tingkat risiko yang terdeteksi yang akan
datang, sifat, waktu, serta luasnya prosedur pengujian substantif.
• Mengembangkan Program Audit Final. Program audit meliputi
prosedur-prosedur khusus yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan audit. Auditor
menyatakan sifat dan prosedur pengujian yang menunjukkan luas dan waktu
dibutuhkan
4. PENGUJIAN SUBSTANTIF
Langkah-langkahnya adalah:
1. Memilih dan Melaksanakan Pengujian
Substanstif. Pengujian substantiv merupakan bagian terbesar dari program
audit.Tujuan dari pengujian substantiv dalam audit keuangan adalah untuk
memberikan asersi laporan keuangan yang valid yang dibuat oleh manajemen. Tiga
pengujian substantiv tersebut adalah: (1) melakukan prosedur analitis final,
(2) menguji rekening neraca, (3) menguji secara rinci kelompok-kelompok
transaksi. Jumlah pengujian substantiv didasarkan pada risiko terdeteksi final
untuk tiap-tiap golongan transaksi utama.
2. Mengevaluasi Pengujian Substantif.
Dalam evaluasi ini, hasil pengujian yang dapat diterima, untuk meminimalisasi
kemungkinan kesalahan-kesalahan yang material dan pernyataan yang salah dalam
asersi laporan keuangan. Hasil pengujian yang tidak dapat diterima memerlukan
penambahan sample dalam transaksi sebelum audit dapat diselesaikan.
5. PELAPORAN AUDIT
Tahap final audit ini adalah untuk
memberikan laporan audit berkaitan dengan permasalahan yang ada di perusahaan.Langkah-langkahnya
adalah:
• Mencatat Laporan Audit.
• Mencatat Kondisi-kondisi yang dapat dilaporkan. Auditor harus
membuat catatan atas kondisi-kondisi yang dilaporkan kepada dewan audit,
mencakup kecurangan-kecurangan yang signifikan dalam perancangan atau operasi
dari sistem pengendalian internal perusahaan.
TEKNIK DAN PENDEKATAN
PENGAUDITAN BERBASIS KOMPUTER
Teknik yang spesifik hanya diaplikasikan untuk sistem informasi
pemrosesan transaksi secara otomatis. Teknik ini dapat digunakan untuk
pengujian pengendalian atau pengujian substantif. Namun begitu, sistem ini
tidak bisa menggunakan sistem flowchart, data flow diagram dan kuisioner dalam
mereview struktur pengendalian intern. Tiga teknik pengujian yang berbasis
komputer (Computer Assisted Audit Techniques/CAAT) yaitu pengauditan sekitar
komputer, pengauditan melalui komputer, pengauditan dengan menggunakan
komputer. Auditor intern dan ekstern dapat menggunakan tiga teknik pendekatan
ini secara efektif.
Pengauditan Sekitar Komputer
Pendekatan pengauditan sekitar komputer
(auditing around the computer) memperlakukan komputer sebagai “kotak hitam”.
Pendekatan ini difokuskan pada input dan outputnya. Asumsi yang mendasari
pendekatan ini yaitu jika auditor dapat menunjukkan output yang aktual adalah
hasil yang benar yang diharapkan dari sekumpulan input untuk sistem pemrosesan,
maka pemrosesan komputer harus difungsikan menggunakan cara yang andal. Teknik
yang penting dalam pendekatan ini meliputi penelusuran dan pemilihan transaksi
dari dokuman sumber untuk meringkas transaksi dan catatan serta sebaliknya.
Pendekatan pengauditan sekitar komputer adalah non processing data method.
Auditor tidak menyiapkan simulated data transaction atau menggunakan file-file
auditee yang aktual untuk memprosesnya dengan program komputer auditee.
Pendekatan sekitar komputer akan tepat, jika kondisi berikut ini terpenuhi :
1. Audit trail lengkap dan visible. Oleh
karena itu dokumen sumber digunakan untuk semua transaksi, jurnal-jurnal
terinci dicetak dan referensi transaksi dipindahkan dari jurnal ke buku besar
dan laporan ringkas.
2. Pemrosesan operasi yang secara
relatif tidak rumit dan volumenya rendah.
3. Dokumennya lengkap, seperti data flow
diagram dan sistem flowchart, yang tersedia bagi auditor.
Pengauditan Melalui Komputer
Karena pendekatan sekitar komputer tidak mencukupi, pendekatan
alternatif dibutuhkan untuk pengauditan berbasis komputer (auditing through the
computer), yang secara langsung difokuskan pada tahap pemrosesan dan edit
check, serta programmed check. Pendekatan ini disebut dengan pengauditan
melalui komputer. Asumsi dari pendekatan ini adalah jika program dikembangkan
dengan menambah programmed check, kesalahan (error) dan ketidakberesan akan
dapat terdeteksi, sehingga dapat dikatakan dapat dipercaya.
Pendekatan pengauditan melalui komputer dapat diaplikasikan
untuk semua sistem otomatisasi pemrosesan yang kompleks. Bahkan jika biayanya
efektif dan memungkinkan, pendekatan sekitar komputer dan pengauditan melalui
komputer dapat dikerjakan untuk pekerjaan audit yang sama. Dengan mengerjakan
secara bersamaan, keuntungannya menjadi lebih besar dan tujuan audit dapat
tercapai.
Pengauditan Dengan Menggunakan Komputer
Pendekatan ini menggunakan komputer (auditing with the computer)
untuk tujuan pengerjaan tahap-tahap program audit yang terinci. Pendekatan ini
juga digunakan untuk mengotomatisasi aspek tertentu dalam proses pengauditan.
Komputer ditransformasikan pada audit scene selama mereka dapat mengerjakan
jumlah fungsi audit, seperti pengujian pengendalian dan pengujian substantive.
Auditor dapat menggunakan paket-paket spreadsheet excel, untuk menciptakan
spreadsheet yang berisi laporan keuangan dari perusahaan yang diaudit.
Pengembangan yang lain adalah template, efek program dan format on screen
dengan menggunakan paket software spreadsheet. Template ini memungkinkan
auditor untuk mengerjakan tugas yang sebelumnya dikerjakan secara manual.
Template didesain untuk membantu menyiapkan neraca, memelihara pengulangan
pemasukan jurnal, mengevaluasi hasil sampel, penjadwalan dan mengelola waktu
auditor dalam audit lapangan, melaksanakan pengujian yang masuk akal terhadap
pengeluaran serta mengestimasi pengeluaran.
Pendekatan pengauditan dengan komputer yang populer menggunakan
software audit selama pengujian substantif terhadap catatan dan file
perusahaan. Software audit secara umum terdiri dari kumpulan program rutin.
Tipe software yang digunakan yaitu generalized audit software (GAS) yang
terdiri dari satu atau lebih program rutin yang dapat diterapkan pada berbagai
situasi dan berbagai tipe organisasi. GAS sering dipakai untuk melakukan
substantive test dan digunakan test of control yang terbatas. Sebagai contoh
GAS sering dipakai untuk mengetes fungsi algoritma yang komplek dalam program
computer. Tetapi ini memerlukan pengalaman yang luas dalam penggunaan software
ini.
Audit Software, penggunaan software dalam melaksanakan audit
dengan koputer dapat membantu dalam pengujian substantive catatan dan file
perusahaan.
Tipe software audit yang uama adalah GAS
(Generalized Audi Software), yang terdiri dari satu atau lebih program yang
applicable pada bernagai situasi audit pada suatu perusahaan. ACL (Audit Comand
Language) merupakan interaktif, yang menghubungkan user dengan computer. ACL
membantu auditor untuk untuk menganalisis data klien dengan beberapa fungsi,
misalnya attribute sampling, histogram generation, record aging, file
comparation, duplicate checking, dan file printing. Yang relative powerful,
fleksibel dan mudah dipelajari.sehingga auditor dapat memodifikasi program
untuk situasi khusus.
Fungsi audit yang khas yang tersedia pada paket GAS:
1. Extracting data from files, GAS harus mempunyai kemampuan
untuk menyuling dan retrieve data dari berbagai struktur, media, dan bentuk
catatan file pada saat digunakan untuk mengaudit perusahaan yang bervariasi.
Setelah di suling, data diedit dan kemdian ditransfer pada audit work file,
penyimpanan data tersedia untuk digunakan dengan program lain yang ada pada GAS
2. Calculating With data,beberapa step dalam audit terdiri dai
addition, subtraction, multiplication dan division operation. Contohnya koreksi
jurnal dilakuka dengan menjural ulang.
3. Performing comparisons with data, perbandingan mungkin
dilakukan untuk menyeleksi data elemen untuk di tes untuk memastikan adanya
konsistensi diantara data elemen dan untuk memverifikasi apakah kondisi
tertentu telah didapat. GAS seharusnya menyediakan logical operator seperti
equal, less than, dan greater than.
4. Sumarizing data, data elements harus sering di ringkas untuk
memberikan dasar untuk perbandingan. Contoh: list detail gaji harus diringkas
untuk dibandingkan dengan laporan penggajian.
5. Analyzing data, berbagai data harus dianalisis untuk
memberikan dasar review atas trend perusahaan. Contohnya, piutang harus
ditaksir umurnya utuk menentukan kemungkinan piutang tersebut dapat ditagih.
6. Reorganizing data, data elemen perlu untuk di sortir atau
digabungkan. Contohnya: berbaga produk yang dijual perusahaan boleh mungkin di
re-sorted secara ascending berdasar jumlah total penjualan untuk membantu
analisis penjualan.
7. Select sample for testing. Dalam audit, tidak semua data
dapat di uji. Sample harus diambil secara random. Contohnya sample customer
dapat dipilih secara random dari catatan piutang dagang.
8. Gathering statistical data, seorang auditor sering
membutuhkan data-data statistik. Contohnya: mean dan median dari penjualan
produk.
9. Printing Confirmation Request, analyses, and other output
Manfaat GAS:
1. Memungkinkan auditor untuk mengakses catatan computer yang
dapat dibaca untuk berbagai macam aplikasi dan organisasi.
2. Memungkinkan auditor untuk memeriksa lebih banyak data
daripada jika auditor masih menggunakan proses manual.
3. Dapat melakukan berbagai macam fungsi audit secara cepat dan
akurat, termasuk pemilihan sample secara statistic.
4. Mengurangi ketergantungan pada nonauditing personel untuk
melakukan peringkasan data, dengan demikian auditor dapat mengelola
pengendalian audit yang lebih baik.
5. Auditor hanya memerlukan pengetahuan yang cukup (tidak begitu
dalam) tentang computer.
Keterbatasan GAS:
GAS tidak memeriksa application programe dan programmed check
secara langsung sehingga tidak dapat menggantikan audit
–through-the-computer-techniques.
AUDIT
OPERASIONAL DALAM DEPARTEMEN PEMROSESAN INFORMASI
Sifat Audit Operasional Pemrosesan Data
Satu tipe utama audit operasional meliputi pengauditan fungsi
pemrosesan informasi. Audit operasional pemrosesan data secara sistematis
memperkirakan keefektifan unit-unit dalam mencapai tujuan dan
mengidentifikasikan kondisi yang dibutuhkan untuk perbaikan. Pemrosesan data
audit operasional mempunyai sifat yang luas meliputi semua kegiatan departemen
pemrosesan atau mungkin dihubungkan dengan segmen khusus dalam kegiatan
tersebut, tergantung pada tujuan manajemen.
Situasi Yang Muncul Dalam Audit Operasional Pemrosesan Data
Dalam hal pemrosesan data yang umumnya terjadi adalah:
1. Biayanya tinggi untuk penyediaan jasa komputer.
2. Bagian utama dari rencana perusahaan.
3. Usulan perolehan hardware yang utama atau meng-upgrade
software.
4. Ketidakmampuan menerima pemrosesan data komputer secara
eksekutif.
5. Kebutuhan pemrosesan data eksekutif yang baru untuk penilaian
secara intensif.
6. Ketidakteraturan perputaran personil dalam departemen pemrosesan
data.
7. Usulan untuk mengkonsolidasi atau mendistribusikan sumberdaya
pemrosesan data.
8. Merupakan sistem utama yang tidak responsif terhadap
kebutuhan atau sulit dalam pemeliharaan.
9. Meningkatnya jumlah komplain user.
Proses Audit Operasional Pemrosesan Data
• Audit planning phase
Audit operasional pada fungsi data
processing tidak mempunyai starting place, tetapi berpedoman pada tujuan audit.
Masing-masing audit mempunyai ciri khas dan memerlukan individual treatment
karenanya lingkup audit berbeda sesuai dengan tujuannya.
Dengan mengabaikan lingkup audit, tugas
pertama dalam audit operasional yaitu untuk memperkenalkan diri pada organisasi
dan DP departemen untuk diaudit. Hal ini adalah sebuah tahap penting bagi
auditor untuk memperoleh dan meninjau ulang latar belakang informasi pada unit,
aktivitas, dan fungsi yang akan diaudit.Tahap ini penting dan sebaiknya diikuti
dengan mengabaikan audit operasional yang dilakukan secara internal. auditor
sebaiknya mengumpulkan informasi dari klien untuk memperoleh pemahaman tentang
DP departemen dan tujuannya. Banyak latar belakang informasi yang sebaiknya
digunakan auditor pada tahap ini mencakup lokasi departemen DP, nama manajer
pada DP, no SDM pada DP berdasar level dan tipe,metode evaluasi SDM, tingkat
pertukaran SDM, tugas dan tanggung jawab karyawan, identifikasi peralatan
komputer yang digunakan dan identifikasi sistem operasi yang digunakan.
phisical layout chart pusat komputer sebaiknya diperoleh dari DP manajer (
atau, jika tak tersedia, disiapkan oleh auditor). kerjasama DP manajemen
menjadi hal yang penting selama tahap perencanaan.
• Preliminary survey phase
Setelah
tujuan audit tealah ditetapkan, dan lingkup audit telah ditentukan serta
manajemen cooperation diperoleh, maka auditor siap untuk preliminary survey.
survei membantu auditor untuk mengidentifikasi lingkup masalah, sensitive area,
dan operasi yang rumit tentang audit DP departement. Setelah preliminary
survey, auditor harus bisa menentukan tingkat kompleksitas audit
operasional.selama preliminnary survey, auditor akan mempelajari permasalahan
operasional manajemen DP. Auditor perlu mendalami mengenai DP center sehingga
familiar dengan pengoperasiannya. Auditor sebaiknya membuat rencana dalam
mengusulkan petunjuk DP centernya dan bertindak sebagai penghubung bagi semua
data collection dan dokumentasi syang diperoleh. Auditor akan membentuk rencana
tahapan dalam operasi actual yang disesuaikan dengan diskripsi tertulis maupun
lisan dan pemahaman yang telah diberikan oleh DP personil kepada auditor.
Proses verifikasi ini memerlukan contoh transaksi atau lingkup kerja yang diuji
secara detail.
Prelimanary phase pada operational audit
merupakan basis pada tahap pengujian audit yang terperinci. DP manajemen
sebaiknya diberitahu pengungkapan penyimpangan dan membantu dalam petunjuk pada
lingkup permasalahan. Auditor mendisain program audit untuk maenemukan
pertimbangan atau penyebab ketidakcocokan.
• Detailed audit phase
Aktivitas untuk menguji dan mengevaluasi tahap audit ini
meliputi:
1. fungsi pengolahan informasi pada organisasi
2. praktek dan kebijakan sumber daya manusia
3. operasi komputer
4. pengembangan sistem dan implementasinya
5. aplication system operation
lima area terdaftar ini diharapkan dapat menyajikan beberapa
faktor-faktor penting yang harus dipertimbangkan. ketika mereka memberi auditor
suatu pandangan umum tentang komponen penting DP functioni dan dapat bertindak
sebagai starting point yang baik.
• Reporting
Pada
tahap penyelesaian opersional audit laporan diberikan kepada manajemen dan
komite audit perusahaan.Isi dari laporan ini bervariasi sesuai pada harapan
manajemen.contohnya : laporan mungkin terdiri dari pendapat yang mengacu pada
fungsi pengelolaan informasi yang efektif dan efisien, dan saran-saran yang
membangun.Internal auditor diwajibkan untuk melakukan follow up pada report
audit findings dan memberikan rekomendasi untuk memastikan bahwa komite audit
mengambil langkah yang tepat.